Senin, 12 Agustus 2013

17. Apakah hutang puasa Ramadlan karena udzur bagi yang telah meninggal dunia itu harus diqadla?

Hutang puasa Ramadlan karena udzur semisal sakit bagi orang yang telah meninggal dunia itu harus diqadla oleh keluarganya, atau dibayarkan fidyah satu mud makanan untuk setiap harinya, apabila yang bersangkutan telah memiliki kesempatan untuk melaksanakan qadla dengan menunaikan puasa. Dan apabila yang bersangkutan belum mempunyai kesempatan melaksanakan qadla, semisal sakitnya berlarut larut hingga meninggal dunia maka hutang puasanya tidak wajib dibayarkan fidyah ataupun dilakukan qadla puasa oleh keluarganya. 

Dalam Kifayatul Akhyar, juz: 1, hal: 212:

من فاته صيام من رمضان ومات نظر إن مات قبل تمكنه من القضاء بأن مات وعذره قائم كاستمرار المرض فلاقضاء ولافدية ولاإثم عليه وإن مات بعدالتمكن وجب تدارك مافاته 

“Barangsiapa melewatkan puasa Ramadlan lalu meninggal dunia, maka dinalar lebih dahulu. Jika ia meninggal dunia sebelum memiliki kesempatan melakukan qadla, seperti meninggal dunia pada saat sakit dan sakitnya berlarut larut, maka tidak wajib qadla, tidak wajib fidyah dan ia tidak berdosa. Dan jika ia meninggal dunia setelah mempunyai kesempatan melakukan qadla, maka wajib menyusulkan hari hari Ramadlan yang telah dilewatkan -dengan membayarkan fidyah satu mud makanan untuk satu hari atau dengan dilakukan qadla puasa oleh keluarganya-”(Kifayatul Akhyar, juz: 1, hal: 212).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar