Hutang puasa Ramadlan karena udzur
semisal sakit bagi orang yang telah meninggal dunia itu harus diqadla oleh
keluarganya, atau dibayarkan fidyah satu mud makanan untuk setiap harinya,
apabila yang bersangkutan telah memiliki kesempatan untuk melaksanakan qadla
dengan menunaikan puasa. Dan apabila yang bersangkutan belum mempunyai
kesempatan melaksanakan qadla, semisal sakitnya berlarut larut hingga meninggal
dunia maka hutang puasanya tidak wajib dibayarkan fidyah ataupun dilakukan
qadla puasa oleh keluarganya.
Dalam Kifayatul Akhyar, juz: 1, hal: 212:
من
فاته صيام من رمضان ومات نظر إن مات قبل تمكنه من القضاء بأن مات وعذره قائم
كاستمرار المرض فلاقضاء ولافدية ولاإثم عليه وإن مات بعدالتمكن وجب تدارك مافاته
“Barangsiapa
melewatkan puasa Ramadlan lalu meninggal dunia, maka dinalar lebih dahulu. Jika
ia meninggal dunia sebelum memiliki kesempatan melakukan qadla, seperti
meninggal dunia pada saat sakit dan sakitnya berlarut larut, maka tidak wajib
qadla, tidak wajib fidyah dan ia tidak berdosa. Dan jika ia meninggal dunia
setelah mempunyai kesempatan melakukan qadla, maka wajib menyusulkan hari hari
Ramadlan yang telah dilewatkan -dengan membayarkan fidyah satu mud makanan
untuk satu hari atau dengan dilakukan qadla puasa oleh keluarganya-”(Kifayatul
Akhyar, juz: 1, hal: 212).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar