Hubungan
sebadan di malam hari, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya
seperti makan / minum tidak merusak niat puasa. Misalnya, pak Jamilun telah niat
puasa bersama-sama seusai shalat tarawih di musalla, kemudian habis sahur
sebelum waktu imsak, ia melakukan hubungan badan dengan isterinya. Niat puasa
pak Jamilun tidak batal, artinya ia tidak perlu niat puasa kembali.
Dalam Tanwirul Qulub, hal: 227:
ولايضر الإتيان بماينافي الصوم بعدها
“Dan boleh melakukan hal-hal yang merusak ibadah puasa di malam hari setelah melaksanakan niat puasa”(Tanwirul Qulub, hal: 227).
Dalam Kifayatul Akhyar, juz: 1, hal: 205:
ولايضر النوم والأكل والجماع بعد النية
“Dan boleh tidur, makan dan bersetubuh setelah melaksanakan niat pusa”(Kifayatul Akhyar, juz: 1, hal: 205).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar